Nama : Asep hambali

NRP : A24100179

Laskar : 10

Cerita inspirasi yang ke dua ini saya dapatkan dari pengalaman yang baru saya rasakan di asrama. Ketika itu saya sangat membutuhkan pulsa, karena sedang di asrama maka sangat sulit sekali untuk mendapatkannya. Apalagi asrama kami masih jauh dengan fasilitas maupun konter penjual pulsa. Akhirnya sayapun bartanya pada teman sekamar saya, apakah ada mahasiswa yang seasrama yang baerjualan pulsa. Akhirnya sayapun mendapatkan informasi bahwa ada teman yang berjualan pulsa, sayapun membeli pulsa ke teman saya tersebut. Ternyata tidak hanya saya yang membeli pulsa pada teman saya tersebut tapi banyak juga teman di asrama yang membeli pulsa pada teman saya tersebut. Selain harganya relatip murah diapun bayak sekali menyediakan pulsa dari beberapa server yang ada di Indonesia satu hal yang penting juga buat kita ketahui bahwa membeli pulsa pada dia tidak harus bertatap muka cukup sms aja pulsa datang engan segera. Hebat ya, baru masuk kuliah sudah mendapatkan pelanggan satu asrama.

Dari pengalaman di atas saya mendapatkan inspirasi bahwa seorang mahasiswapun bisa mencari uang sambil kuliah apabila ada kemauan, kemampuan dan mental yang kuat untuk memulai berwirausaha. Menjadikan kesempitan menjadi sebuah kesempatan mencari peluang yang ada. Selain membantu orang lain apa yang dikerjakannnya juga bisa membuat dirinya menjadi lebih dewasa dan siap menghadapi hidup. dari sana saya mencoba untuk memikirkan seuatu supaya sayapun dapat mempunyai usaha sampingan minimal belajar untuk memiliki jiwa dan mental pengusaha. Melihat lingkungan sekitar yang sekiranya bisa mendatangkan manfaat buat orang lain dan juga buat saya pribadi.

Saya ingin memiliki kios penyedia jasa photo kopi di dekat SMA di daerah saya, karena saya melihat tidak ada kios photo kopi disana, namun modalnya yang membuat saya bingung, masih sebatas rencana dan keinginan tapi insyaAllah saya akan memulainya kelak.

Nama : Asep Hambali

NRP : A24100179

Laskar : 10

Di era globalisasi yang modern ini selain ilmu agama, ilmu pengetahuan dan tekhnologi menjadi salah satu alat ukur taraf kehidupan suatu bangsa atau individu masing-masing. Persaingan semakin terbuka, dan hanya individu yang kreatif serta kompetenlah yang siap untuk menghadapi tantangan di zaman yang serba modern ini.

Pendidikan adalah salah satu gerbang untuk bekal dalam menjawab tantangan zaman tersebut, karena itu anak seorang petani desa yang kehidupannya pas-paspun tergerak hatinya untuk menimba ilmu setinggi mungkin. Dialah Ali, anak kampung yang berusaha mensejajarkan dirinya mencari ilmu di kota besar. Walau dia tahu bahwa biaya pendidikan di negeri yang katanya sudah sebelas tahun merasakan reformasi ini cukup memberatkan bagi keluarganya. Apalagi kepala keluarga dalam keluarganya itu sudah mendahului menghadap sang illahi, tapi tidak mengurungkan niatnya untuk dapat menimba ilmu setinggi langit tersebut karena kelak dia bercita-cita menjadi insan yang lebih produktif serta bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan orang lain. Diapun bercita-cita mengabdi untuk daerahnya di bidang yang ia pelajari sekarang “pertanian”, karena 90% mata pencaharian di daerahnya adalah dari bercocok tanam di sawah dan perkebunan.

Ali adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Semua saudaranya perempuan dan dia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarganya, semua saudaranya sudah menikah dan hanya dialah yang menjadi beban hidup bagi keluarganya sekarang. Dia hidup dalam keluarga yang lumayan berutung di kampungnya, mungkin jika di setarakan dengan masyarakat kota kehidupannya masih pas-pasan. Namun di kampungnya dengan memiliki rumah yang kokoh dan sepetak sawah adalah sebuah anugrah dari sang kholik serta rasa syukur yang tiada tara. Betapa tidak, karena kehidupan tetangganya tidak seberuntung keluarganya, walau sekarang keluarga Ali sudah setengah hidup karena di tinggal kepala keluarganya dan di tambah lagi kondisi ibunya yang sudah berusia lanjut serta mulai sakit-sakitan, itu semua menjadi beban dalam benaknya untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi walaupun dia tetap berusaha untuk tetap berpikir positif. Apalagi di kehidupan kampungnya anak laiki-laki seusia dia sudah bekerja dan membantu perekonomian keluaga, bahkan banyak sekali teman-temannya yang sudah jauh bekerja kemana-mana ada yang mencetak batu-bata merah, menjadi buruh bangunan yang selain bekerja bisa mengetahui daerah dan budaya orang lain serta menjadi buruh tani ketika musim panen datang namun hanya sedikit dari mereka yang menjadi buruh di pabrik karena jarang sekali dari mereka yang memilki ijazah SMA/SMK. Berbeda dari anak perempuan seumurannya, sekarang banyak sekali dari mereka yang lulus SMP atau SMA yang menjadi buruh pabrik garment di daerah mereka, karena sudah mulai berdatangan insvestor asing maupun lokal yang membuat pabriknya di daerah mereka sekarang. Bermodalkan keahlian menjahit yang di dapat dari kursus menjahitnya anak perempuan di daerah Ali sudah bisa menjadi buruh pabrik dengan ijazah SMP atau SMAnya.

Ali pun mulai lega sekarang, karena kehidupan dan perekonomian di daerahnya mulai meningkat, walau UMR gaji pekerja garment tidak sebanding dengan jam kerja yang mereka korbankan hanya 650.000/bln tapi dengan adanya pabrik yang mensyaratkan pekerja-pekerjanya memiliki ijazah SMA atau SMK menjadikan masyarakatnya lebih peduli terhadap pendidikan anak-anaknya.

Ada senang dan sedih, Alipun mengusap dada karena dalam benaknya seharusnya anak seumuran dia sudah bekerja dan tidak lagi menjadi beban keluarganya. Namun tekad serta ibu dan saudaranya tetap memberikan semangat kepadanya untuk tetap bersekolah dan mencari ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain ummnya karena dia adalah orang yang di beri kesempatan untuk itu maka dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang dia peroleh dia harus memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bisa memberi kesempatan kepada anak-anaknya serta anak-anak saudara maupun teman-temannya di masa yang akan datang kelak.

Dia tanamkan kalau dirinya harus berhasil, yang tidak di beri kesempatan buat menimba ilmu lebih tinggi saja sudah berhasil dan bisa bekerja apalagi dia yang di beri peluang serta kesempatan untuk belajar dan menjadi seorang mahasiswa di salah satu inuvesitas atau institut terbaik negeri yang berusia 65tahun ini pada tanggal 17 agustus 2010 kemarin. Dia harus berhasil, dan cita-citanya adalah berhasil serta bahagia dunia dan akhirat.

Search
Archives